Minggu, 09 Oktober 2011

Pengertian Sedimentasi

Sedimentasi adalah proses pemisahan padatan yang terkandung dalam limbah cair oleh gaya gravitasi, pada umumnya proses Sedimentasi dilakukan setelah proses Koagulasi dan Flokulasi dimana tujuannya adalah untuk memperbesar partikel padatan sehingga menjadi lebih berat dan dapat tenggelam dalam waktu lebih singkat.
Sedimentasi bisa dilakukan pada awal maupun pada akhir dari unit sistim pengolahan. Jika kekeruhan dari influent tinggi,sebaiknya dilakukan proses sedimentasi awal (primary sedimentation) didahului dengan koagulasi dan flokulasi, dengan demikian akan mengurangi beban pada treatment berikutnya. Sedangkan secondary sedimentation yang terletak pada akhir treatment gunanya untuk memisahkan dan mengumpulkan lumpur dari proses sebelumnya (activated sludge, OD, dlsb) dimana lumpur yang terkumpul tersebut dipompakan keunit pengolahan lumpur tersendiri.
Sedimen dari limbah cair mengandung bahan bahan organik yang akan mengalami proses dekomposisi, pada proses tersebut akan timbul formasi gas seperti carbon dioxida, methane, dlsb. Gas tersebut terperangkap dalam partikel lumpur dimana sevvaktu gas naik keatas akan mengangkat pule partikel lumpur tersebut, proses ini selain menimbulkan efek turbulensi juga akan merusak sedimen yang telah terbentuk. Pada Septic-tank, Imhoff-tank dan Baffle-reactor, konstruksinya didesain sedemikian rupa guna menghindari efek dari timbulnya gas supaya tidak mengaduk/merusak partikel padatan yang sudah mapan (settle) didasar tangki, sedangkan pada UASB (Uplift Anaerobic Sludge Blanket)justru menggunakan efek dari proses tersebut untuk mengaduk aduk partikel lumpur supaya terjadi kondisi seimbang antara gaya berat dan gaya angkat pada partikel lumpur, sehingga partikel lumpur tersebut melayang-layang/mubal mubal. Setelah proses dekomposisi dan pelepasan gas, kondisi lumpur tersebut disebut sudah stabil dan akan menetap secara permanen pada dasar tangki, sehingga sering juga proses sedimentasi dalam waktu yang cukup lama disebut dengan proses Stabilisasi. Akumulasi lumpur (Volume) dalam periode waktu tertentu(desludging-interval) merupakan parameter penting dalam perencanaan pengolahan limbah dengan proses sedimentasi dan stabilisasi lumpur. (http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/limbah-industri/sedimentasi-pengendapan-pada-pengolahan-limbah-cair/)
PENGERTIAN BANJIR
Banjir  adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam  daratan. Dalam arti "air mengalir", kata ini juga dapat berarti masuknya pasang laut. Banjir diakibatkan oleh volume air di suatu badan air seperti sungai atau danau yang meluap atau menjebol bendungan sehingga air keluar dari batasan alaminya.
Banjir juga dapat terjadi di sungai, ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai. Banjir sering mengakibatkan kerusakan rumah dan pertokoan yang dibangun di dataran banjir sungai alami. Meski kerusakan akibat banjir dapat dihindari dengan pindah menjauh dari sungai dan badan air yang lain, orang-orang menetap dan bekerja dekat air untuk mencari nafkah dan memanfaatkan biaya murah serta perjalanan dan perdagangan yang lancar dekat perairan. Manusia terus menetap di wilayah rawan banjir adalah bukti bahwa nilai menetap dekat air lebih besar daripada biaya kerusakan akibat banjir periodik. (http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir)
Air hujan sampai di permukaan Bumi dan mengalir di permukaan Bumi, bergerak menuju ke laut dengan membentuk alur-alur sungai. Alur-alur sungai ini di mulai di daerah yang tertinggi di suatu kawasan, bisa daerah pegunungan, gunung atau perbukitan, dan berakhir di tepi pantai ketika aliran air masuk ke laut.







PENYEBAB BANJIR
·        Curah hujan dalam jangka waktu panjang.
·        Bendungan  dan saluran air rusak.
·        Buruknya penanganan sampah, hingga sumber saluran-saluran air tersumbat.
·        Erosi tanah menyisakan batuan, hingga tidak ada resapan air.
·        Keadaan tanah tertutup semen, paving atau aspal, hingga tidak menyerap air.
·        Pembangunan tempat permukiman dimana tanah kosong diubah menjadi
          jalan / tempat parkir, hingga daya serap air hujan tidak ada.
·        Pembabatan hutan secara liar
·        Di daerah  bebatuan  daya  serap  air  sangat  kurang, mengakibatkan banjir
         kiriman atau banjir bandang.
·       Ketidak sadaran masyarakat untuk tidak memperdulikan sampah
·      Tidak adanya tempat untuk penampungan sampah yang layak
Faktor alam penyebab terjadinya banjir adalah:
Badai juga dapat menyebabkan banjir melalui beberapa cara, di antaranya melalui ombak besar yang tingginya bisa mencapai 8 meter. Selain itu badai juga adanya presipitasi yang dikaitkan dengan peristiwa badai. Mata badai mempunyai tekanan yang sangat rendah, jadi ketinggian laut dapat naik beberapa meter pada mata guntur. Banjir pesisir seperti ini sering terjadi di Bangladesh.
Gempa bumi dasar laut maupun letusan pulau gunung berapi yang membentuk kawah (seperti Thera atau Krakatau) dapat memicu terjadinya gelombang besar yang disebut tsunami yang menyebabkan banjir pada daerah pesisir pantai.
 PENANGGULANGAN BANJIR
Adalah kita harus menyadarkan diri kita sendiri dengan tidak membuang sampah pada tempatnya, dan Salah satu faktor penyebabnya adalah kepedulian masyarakat terhadap pembuangan sampah yang sembarangan yang akan mengakibatkan pendangkalan sungai dan tersumbat, selain itu memang ada faktor penyebab lain yaitu adanya banjir kiriman dari Bogor dan sekitarnya, tidak adanya resapan air yang cukup, kawasan Puncak yang sudah tidak sesuai lagi dengan peruntukannya dll termasuk curah hujan yang melebihi batas normal.
Untuk mengatasi banjir ini pemerintahlah yang bertanggung jawab, namun demikian peran serta masyarakat juga penting, contoh sederhana misalnya membuang sampah tidak pada tempatnya (di sungai dsb). Masyarakat harus didorong agar peduli terhadap masalah Banjir yang merupakan hajatan rutin ini. Apabila banjir tiba masyarakat sendirilah yang banyak terkena dampaknya. (http://forum.detik.com/showthread.php?t=96937)
Ada tiga metode penanggulangan banjir. Pertama, memindahkan warga dari daerah rawan banjir. Cara ini cukup mahal dan belum tentu warga bersedia pindah, walau setiap tahun rumahnya terendam banjir. Kedua, memindahkan banjir keluar dari warga. Cara ini sangat mahal, tetapi sedang populer dilakukan para insinyur banjir, yaitu normalisasi sungai, mengeruk endapan lumpur, menyodet-nyodet sungai. Faktanya banjir masih terus akrab melanda permukiman warga. Ketiga, hidup akrab bersama banjir. Cara ini paling murah dan kehidupan sehari-hari warga menjadi aman walau banjir datang, yaitu dengan membangun rumah-rumah panggung setinggi di atas muka air banjir.

Secara normatif, ada dua metode penanggulangan banjir. Pertama, metode struktur, yaitu dengan konstruksi teknik sipil, antara lain membangun waduk di hulu, kolam penampungan banjir di hilir, tanggul banjir sepanjang tepi sungai, sodetan, pengerukan dan pelebaran alur sungai, sistem polder, serta pemangkasan penghalang aliran.
Kedua, berupa manajemen di hulu daerah aliran sungai, antara lain pengedalian erosi, pengendalian perizinan pemanfaatan lahan, tidak membuang sampah dan limbah ke sungai, kelembagaan konservasi, pengamanan kawasan lindung, peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan konservasi. (http://erwinwirawan.blogspot.com/2009/02/penanganan-banjir-di-jakarta.html)
DAMPAK BANJIR
1.      Keselamatan
2.      Kesehatan / banyaknya penyakit (Leptospirosis,diare,tetanus, Poliomyelitis)
3.      Kesejahteraan masyarakat
4.     Hilangnya habitat, berkurangnya makluk)
5.   Keluarga menjadi pecah belah/hilangnya anggota keluarga
6.   Munculnya wabah penyakit      
            Kondisini ini sangat memperhatinkan bagi masyarakat kita sendiri dan menimbulkan gurugian yang sangat besar. Dan terutama fisik dan batin yang di alami korban banjir, Banjir juga biasanya menghancurkan semua sarana dan prasarana transportasi sehingga menyebabkan suplai makanan terhambat. Akibatnya, pengungsi korban banjir terancam kelaparan.


BANJIR TERBESAR DIJAKARTA
Banjir Jakarta 2007 adalah bencana banjir yang menghantam Jakarta dan sekitarnya sejak 1 Februari 2007 malam hari. Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal dari Bogor-Puncak-Cianjur, dan air laut yang sedang pasang, mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir.
Pantauan di 11 pos pengamatan hujan milik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menunjukkan, hujan yang terjadi pada Jumat, 2 Februari, malam lalu mencapai rata-rata 235 mm, bahkan tertinggi di stasiun pengamat Pondok Betung mencapai 340 mm. Hujan rata-rata di Jakarta yang mencapai 235 mm itu sebanding dengan periode ulang hujan 100 tahun dengan probabilitas kejadiannya 20 persen.
Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007. (http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_Jakarta_2007)














DAMPAK BANJIR BAGI  EKONOMI
Sangat merugikan sekali bagi warga Indonesia yang terkena dampak banjir tersebut, Dari catatan Menteri Perindustrian, 23 perusahaan yang berhenti beroperasi. Sebagian kantor mereka ada yang terendam, tak mendapat aliran listrik, dan ada karyawannya tidak masuk kerja lantaran kebanjiran. Belum lagi industri kecil. Contohnya di sentra tekstil Cipulir sekitar 560 unit usaha berhenti beroperasi, 2.100 unit usaha mebel dan furnitur ditutup karena terendam.
Semua perusahaan terkena dampak banjir, terutama pengusaha kecil, akan terseok-seok untuk bangkit kembali. Sebab, lazimnya, mereka tidak memiliki uang tabungan dalam jumlah besar. Tak salah jika perbankan berinisiatif memberikan keringanan bagi para debitor yang terkena dampak bencana banjir.
Ada pula dampak ekonomi ikutan yang langsung dirasakan masyarakat. Harga kebutuhan rumah tangga naik 30%. Kenaikan ini terjadi karena pasokan dan distribusi barang tidak lancar akibat terkendala banjir. Laju inflasi juga naik, khususnya di Jakarta. Belum lagi kemungkinan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK). Dapat dipastikan pula, bagi usaha-usaha kecil sementara waktu akan mengistirahatkan karyawannya hingga kondisi usahanya benar-benar stabil kembali.
Dalam skala yang lebih luas, maka banjir kali ini akan membengkakkan angka pengangguran dan kemiskinan. Ratusan ribu orang yang terkena banjir, sebagian besar adalah rakyat kalangan bawah. Sehingga, akibat banjir, mereka akan masuk dalam deretan orang-orang miskin. (http://www.majalahtrust.com/indikator/surat/1157.php)


           



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar